GENERASI YANG DIJANJIKAN
Adanya Riddah (kemurtadan kini semakin nampak. Sedikit demi sedikit Al-Qur’an mulai dilepaskan oleh umat islam.
Rasulullah jauh-jauh hari telah mengisyaratkan kepada umat muslim : “ akan datang suatu zaman dimana islam hanya tinggal nama, Al-Qur’an tinggal tulisan dan masjid hanya akan disemarakkan dengan bangunan gedung.”
“ Hampir seluruh bangsa mengerumuni hidangan. Seorang sahabat bertanya: apakah karena sedikitnya umat islam pada waktu itu. Rasulullah menjawab: bahkan ketika itu jumlah kamu banyak, tetapi kualitas kamu laksan buih diatas air bah. Allah mencabut dari dada musuhmu rasa takut kepada kamu dan ditanamkan dalam hatimu penyakit. Sahabat bertanya: apakah al wahn itu ya rasulullah? Jawab Rasulullah cinta dunia dan takut mati.”
Beginilah nasib orang muslim yang tidak lagi berpegang kepada kitabullah dan sunnah Rasul. Maka jadilah mereka bangsa kelas dua yang dikendalikan musuh-musuhnya yang tak ubahnya orang buta yang digiring kesana-kemari.
Allah berfirman dalam surat Al – maidah : 54 yang artinya: “Hai orang – orang yang beriman, barang siapa diantara kamu murtad (keluar, ingkar) dari agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kau yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, bersikap lemah lembut kepada muslim dan keras ( tegas ) kepada kaum kafir, berjihad dijalan Allah dan tidak takut kepada orang – orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Kepada orang – orang yang beriman Allah mengingatkan, jika fenomena kemurtadan telah muncul, jika kalian larut dalam arus yang sesat itu, maka akan didatangkan sebuah generasi pengganti yang akan menggeser generasi plin-plan dan bingung. Karakteristik kaum yang dijanjikan Allah itu sebagai berikut :
Satu,
kaum yang selalu ingat “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya karena Allah Rabbul ‘Alamin.”
Kedua,
mereka menjalin hubungan kasih sayang sesama saudara seiman diatas dasar ukhuwah islamiyah. Sebuah ikatan yang memadukan antara jiwa. Fitrah dan amal dalam satu simpul akidah. Allah berfirman dalam surat Al Hujurat :10 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu saudara.”
Persaudaraan mereka digambarkan oleh Rasul seperti bangunan tubuh yang satu. Jika ada bagian tubuh yang sakit maka akan terasa sakitlah bagian-bagian tubuh yang lain. Sebaliknya bersikap keras dan tegas terhadap kaum yang dzolim non kompromis dalam persoalan-persoalan aqidah. Inilah sikap hidup yang berdiri diatas furqon.
Ketiga,
mereka selalu berjihad dijalan Allah. Hari – harinya dihabiskan untuk kepentingan dakwah untuk menegakkan kalimatullah. Tak kenal lelah dan jemu dalam menempuh jalan yang dipenuhi kerikil-kerikil tajam dan bukit-bukit yang terjal. Allah berfirman dalam surat Al Hujurat : 15 yang artinya : “ Sesungguhnya orang – orang mukmin itu adalah, mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul – Nya kemudian tidak ragu-ragu dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwanya.”
Keempat,
Tak bergeming hati mereka jika berhadapan dengan celaan serta hambatan-hambatan dari orang – orang yang tidak suka/benci. Selalu terngiang ditelinganya ucapan Rasulullah :”Katakanlah kamu beriman kepada Allah kemuidan istiqomah.” Inilah amal islam yang baik. Dalam Al-Qur’an Allah menghibur kepada orang-orang yang beriman yang teguh dalam pendirian :” Sesungguhnya mereka yang berkata bahwa Allah adalah Rabb kami, kemudian istiqomah maka, malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata) “ janganlah kalian merasa takut dan janganlah pula kalian merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dujanjikan Allah kepadamu.”
Demikialah ciri-ciri generasi unik yang dijanjikan Allah. Generasi yang tumbuh dan berkembang dibawah naungan Al-Qur’an. Mereka didatangkan oleh Allah seperti datangnya hujan dari langit. Tapi muncul ditengah masyarakat laksana tunas tumbuh bersama mentari yang menyinarinya. Sesungguhnya janji Allah itu benar dan akan diberikan kepada siapa saja yang berkehendak dan dikehedaki_- Nya.
DIAM ITU EMAS
Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.” Hadist diriwayatkan oleh Bukhari.
- Jenis – jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam – macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi adapula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis – jenis diam:
a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.
b. Diam Malas
Diam jenis ini merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas. Kalau memang bermanfaat dan penting, maka rasa malas ini harus ditolak.
c. Diam Sombong
Inipun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengan dirinya. Dia menganggap lawan bicaranya memiliki tingkat intelektual dan sosial yang lebih rendah, sehingga timbul perasaan jika bicara akan mencemari wibawa dan menurunkan kehormatannya.
d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji. Dia memang tidak berkata namun memberi makna mengiyakan sebuah kezaliman.
e. Diam Marah
Diam seperti ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.
f. Diam Utama (diam aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa enggan bersikap menahan diri ( diam ) maka akan menjadi maslahat lebih besar dibandingkan dengan berbicara.
- Keutamaan Diam Aktif
a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata – kata yang berpeluang menimbulkan masalah. Tidak akan ada yang salah paham, yang tersinggung, juga tidak akan menimbulkan permusuhan dan kebencian.
b. Hemat dari Dosa
dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis. Diharapkan pula kedudukan disisi Allah SWT akan terjaga, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah SWT, seperti kata – kata kemusrikan, kemunafikan, atau perkatan dosa lainnya.
c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
dengan menghemat kata melalui diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita. Hal ini membuat kita lebih banyak waktu untuk berdzikir dan tafakur. Buahnya hati akan jauh lebih tenteram.
d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita jadi pendengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendalam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.
e. Hikmah Akan Muncul
Yang tidak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu – memberikan ide dan gagasan yang cemerlang; hikmah tuntunan dari Allah SWT akan menyelimuti hati, lisa, serta sikap dan perilakunya. Bisa kita lihat, para ahli hikmah memiliki ciri khas yaitu banyak diam, banyak bertafakur, dan banyak berdzikir.
f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan. Hal ini efektif untuk menjaga kehormatan dan harga diri kita.
Jadi, diam aktif memiliki arti kesungguhan dengan kesadaran penuh untuk menahan diri dari keinginan berkata – kata, sesudah merenungkan akibat atau niat yang melatarbelakangi keinginan untuk berbicara. Namun ia tetap memaksimalkan interaksi dengan untaian “perkataan” melalui perbuatan berupa kesungguhan mendengarkan dengan tulus, memperhatikan dengan seksama, juga memberikan respon yang tepat, hangat, cermat dan padat makna.
Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti :
1. Diam Dari Perkataan Dusta
Artinya, sekuat tenaga jangan pernah terucap kata dusta kecil atau sehalus apapun baik dalam suasasna serius atau dalam bergurau. Sekalipun terbukti kita berdusta, maka akan sulit dan lama sekali untuk membangun kepercayaan dari orang lain.
2. Diam dari Perkataan Sia – sia
Ingatlah bahwa setiap kata akan memakan waktu yang menjadi modal kita. Jangan tergiur untuk berbicara apapun sebelum kita tahu ada manfaatnya untuk diri atau untuk yang mendengarnya.
3. Diam dari komentar Spontan dan celetukan
Waspadalah terhadap celetukan atau lontaran komentar tanpa sadar terhadap apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Bisa jadi itu akan menimbulkan banyak masalah. Tanpa disadadri kita telah menghina, menyakiti hati,mempermalukan, menyinggung perasaan, atau menzalimi orang lain.
4. Diam dari Kata Berlebihan
Hati – hati, jangan tergiur untuk mendramatisir, menambah – nambah atau mengurangi dengan niat iseng atau selera nafsu supaya terlihat lebig dramatis, seru atau untuk memancing simpati. Biassakanlah selalu bicara secara proporsional, sederhana, tepat sesuai kenyataan.
5. Diam dari Keluh Kesah
Sungguh sayang, hasil dari sikap seperti ini akan memberi dampak buru bagi citra diri kita. Kita akan tampak tidak punya kesasbaran, tukang mengeluh, penebar beban, pribadi yang lemah, dari sebagainya. Tampakkanlah ketegaran, kesabaran yang prima dan kata terbaik untuk menghadapi musibah, “innalillahi wa inna ilaihi raaji”uun”.
6. Diam dari Niat Riya dan ujub
Berhati – hatilah ketika menceritakan amal, pengalaman, keilmuan atau pangkat, jabatan, maupun gelar kita. Jangan sampai niat pembicaraan tersebut hanya sekedar untuk pamer mencari pujian atau penghormatan dari orang lain.
7. Diam dari yang Menyakiti
Ingat bahwa kezaliman yang dilakukan adalah pengundang kezaliman bagi pembuatnya. Oleh karena itu kita harus sekuat menghindari perkataan apapun yang menyakiti, melukai, menyinggung atau yang membuat orang lain tidak nyaman.
8. Diam dari Sok Tahu dan Sok Pintar
Ketahuilah, sifat sok tahu dan sok pintar benar – benar bisa jadi boomerang yang sangat memalukan serta memperlihatkan rerndahya kualitas diri. Biasanya orang arif sangat berhati – hati dalam memberi komentar dan jawaban. Bahkan tidak sungkan untuk mengatakan tidak tahu serta rela dianggap bodoh. Nah saudaraku, kini jelaslah bahwa kebahagiaan, kemuliaan, keuksesan dunia akhirat ternyata milik orang – orang yang sangat berhati – hati menjaga Lisannya. Ciri khas Rosulullah dalam berbicara adalah selalu memilih kata – kata, sederhana namun sarat makna, mudah difahami, fasih, bersih, indah dan sangat berbobot. Bermanfaat bagi siapapun yang mendengarkannya.
PENYEBAB KEMURTADAN
Adapun penyebab kemurtadan adalah sebagai berikut :
- Mengabdi (beribadah) kepada selain Allah, inilah yang disebut dosa syirik (menyekutukan Allah. Syirik adalah dosa besar disisi Allah yang tiada berampun, kecuali pelakunya bertaubat kepada Allah. Seperti firman Allah dalam surat Annisa :48 yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehedaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang amat besar.”
- Tidak mau tunduk, ta’at dan patuh kepada sunnah dan petunjuk nabi SAW dalam segala aspek kehidupan. Sebaliknya mengambil orang-orang yang menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya sebagai teladan dan idola, seperti bintang film, seniman, penyanyi orang – orang zalim dan lain sebagainya.
- Memeluk islam secara sektoral saja, tidak integral (utuh). Mengimani taat dan patuh kepada sebagian ajaran islam, khususnya yang menyangkut ibadah khusus tetapi mengingkari dan menafikan ajaran sebagian yang lain. Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqoroh:85 yang artinya:”Apakah kamu beriman kepada sebagian isi alkitab yang mengingkari sebagian yang lain? Maka tidak ada alasan mereka untuk berbuat demikian, kecuali ditimpa kehinaan didunia dan dihari akhirat mereka dilemparkan kedalam azab yang sangat pedih.”
- Mengambil selain orang – orang mukmin yang rukuk dan sujud kepada Allah sebagai wali (pemimpin, teman karib). Sebaliknya orang-orang mukmin seagai obyek dan lawannya.
- Menjadikan ayat-ayat Allah dan hadist Nabi sebagai bahan otak-atik dan olok-olok juga menjadikan islam sebagai obyek pembicaraan belaka seakan-akan mereka bukan bagian intgral dari hal itu. “Katakanlah apakah kepada Allah ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok. Tidak usah meminta ma’af, sesungguhnya kalian telah kafir sesudah beriman.”(Attaubah :65-66).
- Suka dan berupaya mencari-cari kelemahan islam dan umat islam untuk disebarluaskan kepada manusia. Sementara itu ia tetap tenang dan damai dalam sistem jahiliyah, tanpa berusaha menghancurkannya. “ Dan orang-orang yang didalam hatinya ada penyakit suka mengotak-atik ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari-cari ta’wilnya dan menimbulkan fitnah.”(Ali imron :7).
- Tidak mencintai orang-orang yang memperjuangkan Dienullah, bahkan membencinya dan sebaliknya malah bermesraan dan bergandengan dengan orang-orang yang membenci Dienullah dan jundullah. “Tidak akan engkau dapati orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka itu bapak, anak, saudara atau kaum kerabat mereka.” (Al Mujahadah:22).
- Tidak mau memberi perhatian kepada nasib umat islam. hidupnya sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.”Barang siapa yang tidak tahu dengan urusan ummatKu ia bukan golonganKu.”(Al hadist).
- Mentaati perintah dan berkehendak kepada orang – orang yang durhaka kepada Allah dan suka mengikuti Nafsu. Juga ikut-ikutan dengan perbuatan dan kebiasaan mereka. “ Dan janganlah kalian mentaati perintah orang – orang yang lalai berdzikir kepada kami dan suka mengikuti hawa nafsu.”(Al Kahfi:28).
PENYAKIT CINTA DUNIA
Pokok utama permasalahan ummat belakangan ini adalah berpalingnya ummat dari hakikat penciptaannya sebagai hamba Allah dan malah menjadikan dunia dengan segala isinya sebagai tuhan barunya. Kecintaan kepada harta, kekuasaan, ketenaran, kedudukan sosial dan masalah keduniaan yang lainnya telah menjadikan ummat islam kehinlangan kemuliaan (‘Izzah) dimata ummat lain didunia. Cinta dunia menjadikan tidak memandang baik-buruk, halal – haram. Alangkah malang nasib manusia didunia yang dberi kesempatan Cuma sekali ini. “Dan apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu adakah nikmat hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maka apakah orang yang kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik(surga) lalu ia memperolehnya, adalah sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian ia pada hari kiamat termasuk orang – orang yang diseret (kedalan neraka)?.”Qashash:60-61).
Penyakit cinta dunia berawal dari jauhnya ummat islam dari Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad SAW melalui hadist-hadistnya. Ini menyebabkan syetan mudah menyusup kedalam hati manusia, yang kemudian menyesatkannya dengan dijadikannya begitu indah syahwat keduniaan itu. Untuk menyadarkan kembali ummat ini, ada baiknya kita simak bahaya dari penyakit cinta dunia yang hinggap pada diri seseorang.
Pertama, cinta dunia adalah sumber segala kesalahan
Imam Ahmad menceritakan dari imam Sofyan, bahwa beliau berkata,”Isa putra Maryam as berkata,”Cinta dunia itu sumber segala kesalahan dan didalam harta benda terdapat banyak penyakit. Para sahabat bertanya,”Apa penyakitnya?”beliau menjawab “orang yang cinta dunia tidak dapat meniggalkan sifat bangga dan anggkuh,”kalau dia bisa menghindari sifat tersebut, tanya mereka.”Dia akan sibuk mengurus dan meningkatkannya hingga lalai dari dzikir kepada Allah Azzawaja’allaa.”jawab beliau.
Karena cinta dunia munculah berbagai macam tindak kejahatan seperti, pembunuhan, pemerkosaan, penindasan, penjarahan, korupsi, penyelundupan, pembobolan, kon-kalikong, dan semua tindak kejahatan yang ada didunia ini.
Kedua, bahaya terendah dari cinta dunia adalah lalai dari cinta dan dzikir kepada Allah.
Barang siapa yang lalai dari mengingat Allah disebabkan karena hartanya, dia akan mendaptkan kerugian besar. Sebagaimana qorun yang kaya raya itu harus tenggelam kedalam bumi bersama hartanya. Orang yang lalai dari dzikir ibarat mayat yang berjalan dibumi. Bila hati sepi dari mengingat Allah maka hati akan disetir oleh syetan sesuai kehedaknya. Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa iblis berkata.”Jika seseorang manusia telah dikuasai hatinya dan menjadi lemah, maka kami akan membolak-balikkan hatinya bagaikan seorang anak kecil mempermainkan bola.”
Ketiga, pecinta dunia adalah penghuni neraka.
Cinta dunia membuat neraka ramai dipenuhi manusia, sedang sikap hati-hati (zuhud) terhadap dunia membuat ramainya surga. “ Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maka apakah orang yang kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik(surga) lalu ia memperolehnya, adalah sama dengan orang yang kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (kedalam neraka).(Qashash:60-61).
Keempat, cinta dunia menyebabkan pengagungan berlebih terhadap dunia.
Cinta dunia menuntut manusia agar mengagungkan dan mementingkannya, sedangkan dimata Allah dunia adalah rendah dan hina. Mengagungkan sesuatu yang dipandang rendah oleh Allah termasuk dosa besar. Sering kita jumpai dalam Al-Qur’an bagaimana Allah menggambarkan bahwa dunia itu tak lebih dari sekedar kesenangan yang memperdayakan manusia.
Kelima, mabuk karena cinta dunia lebih berbahaya daripada mabuk karena minuman keras.
Orang yang mabuk karena minuman keras dapat disadarkan dengan segera. Tapi mabuk karena cinta dunia, susah untuk menyembuhkannya bahkan bisa saja baru sadar setelah berada dialam kubur. Yahya bin Muadz berkata: “Dunia itu araknya syetan. Barang siapa mabuk karenanya, ia tidak akan segera sadar, kecuali setelah ia berada ditengah kumpulan orang mati dalam keadaan menyesal diantara orang – orang yang merugi.
Keenam, cinta dunia dapat mengubah niatan amal sholih.
Jika cinta dunia otomatis akan menjadikannya tujuan hidup, sehingga amal sholih yang seharusnya dijadikan jalan untuk mencapai ridlo Allah malah dijadikan untuk mencari kehidupan dunia. Contohnya, orang yang berdakwah tapi tujuannya mendapat amplop/uang semata, atau mendapat kedudukan dan kursi tertentu. Maka kita kemudian kita kenal adanya istilah haji politik, umroh politik, infak politik dan lain – lain. Bingkainya memang dipakai untuk beramal sholih kepada Allah, tapi dibalik itu terkandung keinginan untuk mendapatkan keuntungan dunia.
Ketujuh, cinta dunia menjadi penghambat amal sholih.
Karena manusia akan lebih disibukkan untuk mengurusi dunia sehingga waktunya habis tersita. Dalam hal ini manusia terbagi dalam beberapa klasifikasi :
1. Ada yang sibuk dengan dunianya sehingga melalaikan keimanan dan syari’at Allah.
2. Ada yang sangat cinta dunia sehingga melalaikan ibadah dan kewajian.
3. Ada yang melaksankan kewajiban tertentu dengan meninggalkan kewajiban yang lainnya.
4. Ada yang tidak melaksanakan kewajiban dan ibadah pada waktu yang telah ditentukan.
5. Ada yang melaksankan ibadah tapi hanya lahirnya sedangkan hatinya selalu ingat pada urusan dunia.
Islam telah mengatur masalah dunia dengan mendudukkannya secara proporsional(seimbang). Ia tidak melarang manusia untuk mencari harta kekayaan dunia, dengan prasyarat halal dalam memperolehnya serta digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Bahkan mencari nafkah untuk keluarga adalah satu bentuk ibadah yang besar manakala kita landasi dengan niat ikhlas mencari ridlo Allah. Mari jadikan dunia ini dalam genggaman kita, dan bukan kita yang digenggam oleh dunia sehingga kita tidak diperbudak oleh dunia yang fana dan sementara ini.
MENCARI PEJUANG INDONESIA
Dizaman yang krisis multidimensi semacam ini, dibutuhkan mentalitas manusia-manusia yang taqwa (muttaqin). Yaitu orang – orang yang mampu untuk memformulasikan atau mewujudkan nilai-nilai islam secara utuh dalam kepribadiannya. Kemudian dipancarkan sinar-sinar luhur tersebut kedalam keluarga, masyarakat, serta umatnya secara simpatik. Itulah yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagau kalimat thoyyibah laksana pohon thayyibah (atau pohon taqwa ), yang …Ashluhaa tsaabitun ( akarnya menghujam kedalam tanah ), wafar’uhaa fis samaa’ (batangnya menjulang kelangit) dan tu’ti ukulaha kulaa hiinin bi idzni Robblha “Memberikan buahnya tiap musim dengan seizin Robb-Nya….”(Ibrahim :24-25). Pemimpin, pekerja, wiraswastawan, pelajar, mahasiswa atau apapun posisi kita, yang jelas mereka-meraka yang punya kepribadian seperti inilah yang dicari bangsa kita indonesia. Takwa adalah tahap kematangan yang sempurna dalam pribadi utuh manusia, sebagai perpaduan utuh antara islam, iman dan ihsan. Dimana muslim adalah pelaksana nilai-nilai islam, sedangkan mukmin adalah muslim yang sempurna dan totalitas dalam berislam baik dalam aspek disik, rohani, dan pemikirannya. Sedangkan muhsin adalah sosok pribadi yang telah mewujudkan iman pada tataran paling sempurna, yakni menghambakan diri secara mendalam.
Pentingnya sifat taqwa
Orang – orang yang taqwa adalah mereka yang senantiasa berada diatas rel kebenaran, kemudian senanstiasa istiqomah diatasnya, tidak mudah goyah dalam melangkah dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela.
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah Mencintai mereka dan merekapun mencintain-Nya, yang bersikap keras terhadap orang – orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela…(Al maidah :54).
Ada beberapa nilai penting dari sifat taqwa :
1. Taqwa adalah pondasi kepribadian yang paling kuat. Sebagaimana Allah memrintahkan kepada kita untuk bertaqwa dengan benar-benar taqwa :”Wahai orang – ornga yang beriman bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri”.(Ali imron : 102). Taqwa menuntut seorang muslim mengamalkan nilai-nilai islam dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya mengatur tentang ibadah mahdoh saja (ibadah langsung dengan Allah). Dengan sifat ini seorang pemimpin akan merasa bahwa jabatan yang dipegang adalah amanah Allah dan rakyat yang dipimpinnya. Dia akan memposisikan diri sebagai pelayan ummat, bukannya malah memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri dan memperdaya ummat yang dipimpinnya.
2. Menjadi landasan yang kokoh dalam membangun keluarga ideal, keluarga merupakan basis awal dalam mencetak orang – orang dengan mental pahlawan. Allah berfirman dalam surat Nisa :1 yang artinya,” Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan dirimu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menjadikan istrinya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak….” Pemimpin yang handal muncul ditopang oleh keluarga yang bertaqwa kepada Allah SWT. Kita memahami dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera, keluarga menjadi elemen penting sebagai syarat perwujudannya. Bingakai taqwa dalam sebuah keluarga memudahkan kita membingkai masyarakat kita dengan ketaqwaan.
3. Masyarakat muslim yang kuat berdiri tegak dalam nilai-nilai taqwa. Kekuatan masyarakat muslim ini bersumber pada keinginan mereka untuk senantiasa berprestasi dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam surat al Hujurat :13 yang artinya,”Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu….”
4. Taqwa merupakan sebaik-baik bekal bagi kehidupan seorang mukmin, dunia dan akhirat. Seorang mukmin akan senantiasa melakukan perbaikan diri dalam rangka mempersiapkan bekal masa depan, seperti sabda Rasulullah :” Al- Kayyisu mandaana nafsahu wa’amila limaa ba’da mauti… orang yang cerdas adalah mereka yang senantiasa mengoreksi dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati(HR Tirmidzi). Disamping itu ia juga cerdas untuk mengelola dirinya, tidak tengelam dalam angan-angan dan amal yang sia-sia.
5. Taqwa adalah sebaik-baik pakaian bagi orang – orang mukmin. “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakain untuk menutupi auratmu dan pakain indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa (manusia yang selalu bertaqwa kepada Allah) itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda – tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”(Al A’raaf :26). Pakaian taqwa inilah yang akan menghiaskan kemuliaan pribadi pemakainya dan menghindarkannya dari perilaku tercela.
Itulah beberapa urgensi taqwa dalam pribadi seseorang yang akan berimbas kepada masyarakat disekitarnya.